Tidak semua sel otak akan
langsung mati setelah mengalami iskemia. Astrup pada tahun 1981, pertama kali
memperkenalkan konsep iskemia penumbra. Penumbra merupakan suatu area di
sekitar lesi, yang mengelilingi inti dari iskemia. Setelah pembuluh darah
mengalami oklusi, inti iskemia akan mengalami kematian dan tidak akan
memberikan respon terhadap terapi meskipun aliran darah ke daerah tersebut
sudah diperbaiki. Namun, daerah sekelilingnya (yaitu penumbra)secara metabolik masih aktif dandapat diselamatkan. Sehingga, reperfusimerupakan target utama pada terapi intervensi, dalam rangka
mencegah terjadinya kematian sel yang berlanjut(Fisher M, 2009).
Kematian
sel otak, dapat terjadi melalui jalur nekrosis. Jalur lain kerusakan sel otak
dapat apoptosis. Nekrosis sendiri dapat terjadi melalui proses iskemia dan
edema sel otak. Sedangkan apoptosis melalui
serangkaian
proses mengakibatkan terjadi perubahan morfologik, biokimiawi, farmakologik dan
molekular (misalnya aktivasi caspase) pada sel otak maupun proses
autofagositosis (Dirnagl et al, 1999; Lo et al., 2003;Fisher M, 2009).
Nekrosis
jaringan otak diawali dengan kegagalan pembentukan energi, peningkatan kalsium intraseluler sampai pelepasan asam amino eksitatorik. Proses tersebut akan memacu aktivasi radikal bebas,
produksi peroksinitrit, kalpain, fosfolipase, dan aktivasi poly-ADP-ribose
polymerase(PARP). Setelah itu, juga terjadi proses apoptosis. Serangkaian
depolarisasi yang terjadi akan mengganggu
keseimbangan
energi daerah penumbra. Proses selanjutnya juga akan menimbulkan respon inflamasi(Fisher M, 2009).
Sesudah
mengalami stroke, pasien stroke biasanya lebih fokus dalam rehabilitasi dan perbaikan kondisi.Pencegahan terjadinya stroke berulang ternyata perlu dilakukan. Pada seseorang yang pernah mengalami
stroke, sekitar 14 persen akan mengalami stroke berikutnya dalam jangka 1
tahun. Dalam 5 tahun berikutnya, stroke akan terulang pada 24 persen wanita
dan 42 persen laki-laki.
Faktor risiko stroke yang tidak dapat
dirubah, yaitu:
-Jenis kelamin. Laki-laki lebih berisiko
terkena stroke
-Usia. Semakin tua akan semakin berisiko terkena stroke
-Riwayat keluarga penderita stroke
Memiliki satu atau lebih faktor risiko tidak berarti seseorang pasti akan mengalami
stroke berikutnya.
Perubahan sederhana dalam pola hidup akan
menurunkan risiko terjadinya stroke berulang.
Beberapa
perubahan pola dan gaya hidup secara sederhana yang dapat dilakukan adalah:
-Monitor tekanan darah. Jika mengalami kenaikan, berusahalah
untuk mendapat terapi
-Jika
mengalami Fibrilasi Atrial (ketidakteraturan ritme jantung) tetap rutin control
dan berobat
-Stop merokok
-Stop alkohol
-Cek kadar kolesterol darah
dan pastikan selalu terkontrol
Otak
merupakan organ aktif yang sangat penting. Kebutuhan energi otak secara
ekslusif tergantung pada proses fosforilasi oksidatif. Sehingga otak sangat
peka terhadap kekurangan suplai oksigen dan glukosa. Pada proses iskemia,
terjadi kekurangan oksigen dan glukosa. Dalam hitungan menit, sel neuron maupun non-neuronal akan mengalami depolarisasi sehingga
terjadi
aktivasi kanal kalsium. Depolarisasi tersebut juga akan mengakibatkan pelepasan neurotransmiter eksitatorik dari terminal presinap menuju celah sinap. Glutamat yang dilepas akan berikatan dengan
reseptor ionotropik N-methyl-d-aspartate(NMDA)dan a-amino-3-hydroxy-5-methyl-4-isoazole
propionic acid (AMPA). Ikatan tersebut akan mengakibatkan influks kalsium ke dalam
sel dalam jumlah banyak. Sebagai akibat dari peningkatan kalsium intraseluler,
akan terpicu pembentukan fosfolipasedan protease yang merusak membran sel, dan proteinyang diperlukan untuk
integritas membran sel. Protein pembentuk membran sel yang dirusak adalah
protein aktin, spektrin, laminin dan lain-lain(Fisher M, 2009).
Ion kalsium disertai ion-ion lain akan memasuki mitokondria
melalui pori-porinya, sehingga terjadi
disfungsi membran mitokondria. Lebih parah lagi,
sodium dan klorida akan memasuki neuron
melalui kanal secara pasifdiikuti air, sehingga terjadi edema intraseluler(Fisher M, 2009).
Penggunaan antikoagulan merupakan hal menarik bagi dunia medis sejakmasaHippocrates (460 – 380 Sebelum Masehi). Hippocratesmenganjurkanpemberian anggurputih
untukmembuat darah menjadi encer pada wanita dengandarahmenstruasiyang sedikit. Pada jaman dahulu juga dikenal beberapa
ekstrak tanamandengan
istilah pengencer darah.
Galen (131-201 M) berfikir bahwa darah terlalu kental pada beberapa pasiennya,
sehingga dia menyarankan untuk menjadikannya encer dengan cara menimbulkan
diare melalui konsumsi sayuran rhubarb
(Mueller RL, Scheidt S, 1994).
Pada tahun 1884 Haycraft mengidentifikasi adanya efek
antikoagulan pada saliva lintah, yang dinamakan Hirudin. Namun ekstrak yang
dibuatnya masih beracun. Berlanjut
hingga penemuan heparin, salah
satu obattua yang sering digunakan hingga kini.Penemuan heparin hampirsatu abadyang lalu dan membutuhkan waktu bertahun-tahunuji laboratoriumke
manusia.Tahun 1916, JayMcLean, mahasiswadi JohnsHopkins
Medical School, Baltimore, Amerika
Serikat,bekerja pada dosennya,William Henry
Howell. Howell mendugacephalin yang diisolasidari
otakanjing akanmenimbulkan aktivasi
prothrombin. Ternyata setelah diteliti oleh McLean, cephalin tidak menimbulkan
efek yang diharapkan. Selanjutnya McLean melanjutkan penelitian menggunakan hepar anjing, yang ternyata menimbulkan perdarahan
hebat pada hewan. Penelitian McLean terhenti karena dia lebih tertarik kembali padacephalin, yang menurutnya lebih berguna pada penghentian luka perdarahan pada peperangan(Wardrop D, Keeling D, 2008).
Howellbersama muridlain, Emmett Holt
Jr.mengembangkan penelitian ekstrak hepar
tersebut hingga akhirnya dikenal istilah 'Heparin' dari bahasa Yunani yang berarti 'hepar'atau hati. Namun heparin tersebut masih bersifat toksik. Hingga pada 1959, Best dariToronto menemukan
ekstrak murni heparin yang
tidak toksik (Wardrop D, Keeling D, 2008).
Setelah heparin,
para peneliti memerlukan alternatif antikoagulan yang dapat diberikan peroral.
Pada tahun 1920an, ketika itu banyak sapi dan domba mati karena perdarahan
organ dalam. Penyebabnya adalah konsumsi
makanan ternak dari daun dan jerami yang diproses secara primitif sehingga tumbuh
jamur-jamur jenis Penicillium nigricans dan Penicillium jensi. Ternak terhenti perdarahan jika makanan dihentikan
atau mendapat transfusi darah hewan sehat. Para peneliti dari Wisconsin, Amerika
Serikat terus mempelajari hal tersebut. Salah seorang peneliti bernama Karl
Link, saat menjalani perawatansanatorium, mendapatide untuk menggunakanbahan penelitiannya sebagairodentisida
(pembunuh tikus).
Pembunuhan tikusberhasil
dengan menimbulkanperdarahaninternal. Akhirnya, bahan tersebut diberi nama Warfarin, singkatan dari Wisconsin Alumni Research Foundation(Wardrop D, Keeling
D, 2008).
Setelah digunakan
sebagai rodentisida, warfarinmulai untuk aplikasi klinisdengan nama Coumadin.Tahun 1955, warfarin diberikan kepada Presiden Dwight
Eisenhower setelah mengalami miokard infark. Sehingga
saat itu terdapat sebuah ungkapan, ” Sesuatu yang baik untuk pahlawan
perang dan seorang presiden Amerika Serikat harus baik untuk semua, meskipun
itu adalah racun tikus!"(Manucci,
2001; W.Douglas, Keeling D, 2008).
Tahun 1938, Irving S. Wright, seorang cardiolog melaporkan penggunaan pertama warfarinsebagai terapi pencegahan stroke
iskemik. Selama bertahun-tahun, oral antikoagulan
yang tersedia adalah warfarin. Kelemahannya berupa onset yang lambat, pengaruh bahan makanandan obat-obatan tertentu. Pemberianpada pasien stroke iskemik mengalami kesulitan
karena banyak pasien usia tua
sulit menerapkan detil terapi dan kontrol rutin laboratorium. Konsekuensi yang timbul adalah menghabiskan banyak
waktu dan biaya sehingga warfarin semakin jarang digunakan.Dari pasienyang seharusnya terindikasi memerlukan warfarin, dilaporkan hanya 55 %saja yang mendapat terapi tersebut (Wright, 1959; Fàbregas JM, Mateo J,
2009).
Penemuan antikoagulan jenis
baru membutuhkan waktu lebih kurang 70 tahun. Berbeda dengan
heparin dan warfarin, obat antikoagulan jenis baru bekerja lebih spesifik pada tahap koagulasi tertentu
Penggunaan teknologi tinggi x-ray kristalografi dan komputerisasi mampu menghasilkan biovailabilitas dan
farmakokinetik yang
diharapkan. Beberapa percobaan tahap III obat-obatan oral antikoagulan baru pada pasien Fibrilasi Atrial telah terselesaikan ataumendekati penyelesaian(Fàbregas JM, Mateo
J, 2009).
Penyakit
serebrovaskular menempati peringkat kedua sebagai penyebab kematian di seluruh
dunia. Kematian dalam 1 tahun pertama setelah serangan stroke sekitar 20 %. Setiap
tahun, di Amerika Serikat795.000orang
mengalami stroke.Sekitar
610.000 orang mengalami
stroke pertama dan 185.00 orang mengalami stroke berulang. Di negara
barat, jumlah penderita stroke iskemik sekitar 80-85 % dari seluruh penderita stroke. Namun di
Asia, jumlah penderita stroke
iskemik dibanding stroke perdarahan mencapai 2:1 hingga 3:1. Data review sistematik insidens
stroke global menunjukkan perbedaan antara negara berkembang (mengalami
penurunan 42%) dengan negara sedang berkembang (mengalami peningkatan 100%)
selama 4 dekade terakhir (UeshimaH et
al, 2008; Roger VL et al, 2011; Kulshreshtha A et al, 2012).
Insidens stroke dan
mortalitasnya semakin
meningkat, seiring
modernisasi dan meningkatnya angka
harapan hidup. Di seluruh dunia, 15 juta manusia menderita stroke setiap
tahunnya. Sekitar lima juta orang meninggal dunia dan
5 juta lainnya mengalami
kecacatan akibat stroke.
Diperkirakan pada tahun 2020,
mortalitas stroke meningkat dua kali lipat sebagai akibat dari peningkatan populasi usia lanjut dan peningkatan jumlah pengguna rokok. Dari 60% seluruh penderita
stroke adalah penduduk di negara
miskin dan negara yang sedang berkembang(Isaac ES, Marilyn MR, 2010).
Laporan RISKESDAS 2007 Departemen
Kesehatan Republik Indonesia yang dirilis tahun 2008, menyebutkan stroke
sebagai penyebab utama kematian di Indonesia, yaitu 22,5% pada pria dan 20,5%
pada wanita kelompok usia 55-64 tahun. Sedang pada kelompok usia diatas 65
tahun, 20,9% pada pria dan 24,4% pada wanita. Laporan tersebut juga menyebutkan
bahwa di Indonesia stroke menduduki peringkat pertama penyakit tidak menular
pada semua umur (26,9%), diikuti hipertensi (12,3%), diabetes melitus (10,2%),
tumor ganas (10,2%), dan penyakit jantung iskemik
(9,3%) (DEPKES, 2008).
Beberapa
faktor risiko yang dapat mempermudah terjadinya serangan stroke, misalnya usia
tua,jenis kelamin (laki-laki), faktor
herediter (familial), ras (etnik), memang tidak bisa diubah. Sedangkan faktor
risiko lainnya mungkin bisa diubah. Salah
satu faktor risiko yang dapat dirubah dan well-documented
adalah Fibrilasi Atrial (FA). FAmeningkatkan risikostroke hingga5 kali lipat,
menyumbang15% daristroke,meningkatsesuai usia dan membutuhkan biaya besar. Di AmerikaSerikat biayauntuk penanganan
Fibrilasi Atrial adalah66miliar dollar pertahun (Banerjee A et al, 2011; Goldstein LB et al, 2011).
Stroke
kardioembolik dengan jumlah sekitar 1/5 dari stroke iskemik, dan kasusnya
semakin meningkat seiring bertambah usia. Stroke
kardioembolikmerupakan subtipe
stroke dengan prognosis buruk yang dapat menimbulkan
kematian dan menimbulkan ketergantungan fungsional yang tinggi pada
pasien. Selain itu, Stroke kardioembolik juga menyebabkan terjadinya
peningkatan kasus transformasi perdarahan intraserebral pada stroke. Dalam banyak kasus,terulangnya strokekardioembolik juga dapat dicegah denganantikoagulanoral(Mohr JP, 2011).
Heparin, warfarin dan
beberapa obat antikoagulan jenis baru sedang
dikembangkan. Obat-obatan tersebut bekerja lebih spesifik pada
tahap koagulasi tertentu. Misalnya Faktor Xa inhibitor, termasuk di dalamnya inhibitor indirek seperti idraparinux
dan biotinilasi idraparinux yang menghambat faktor Xa melalui potensiasi
antitrombin. Obat-obatan baru lain seperti
dabigatran sebagai inhibitor thrombin langsung dan
obat-obataninhibitor langsung faktor Xa (rivaroxaban, apixaban, edoxaban, dan betrixaban).
Ximelagatran menunjukkan efikasi yang sama dengan warfarin namun dianggap gagal
karena toksik pada liver(Katsnelson
M et al, 2012; Fàbregas JM, Mateo J, 2009).