Insidens stroke dan
mortalitasnya semakin
meningkat, seiring
modernisasi dan meningkatnya angka
harapan hidup. Di seluruh dunia, 15 juta manusia menderita stroke setiap
tahunnya. Sekitar lima juta orang meninggal dunia dan
5 juta lainnya mengalami
kecacatan akibat stroke.
Diperkirakan pada tahun 2020,
mortalitas stroke meningkat dua kali lipat sebagai akibat dari peningkatan populasi usia lanjut dan peningkatan jumlah pengguna rokok. Dari 60% seluruh penderita
stroke adalah penduduk di negara
miskin dan negara yang sedang berkembang (Isaac ES, Marilyn MR, 2010).
Laporan RISKESDAS 2007 Departemen
Kesehatan Republik Indonesia yang dirilis tahun 2008, menyebutkan stroke
sebagai penyebab utama kematian di Indonesia, yaitu 22,5% pada pria dan 20,5%
pada wanita kelompok usia 55-64 tahun. Sedang pada kelompok usia diatas 65
tahun, 20,9% pada pria dan 24,4% pada wanita. Laporan tersebut juga menyebutkan
bahwa di Indonesia stroke menduduki peringkat pertama penyakit tidak menular
pada semua umur (26,9%), diikuti hipertensi (12,3%), diabetes melitus (10,2%),
tumor ganas (10,2%), dan penyakit jantung iskemik
(9,3%) (DEPKES, 2008).
Beberapa
faktor risiko yang dapat mempermudah terjadinya serangan stroke, misalnya usia
tua, jenis kelamin (laki-laki), faktor
herediter (familial), ras (etnik), memang tidak bisa diubah. Sedangkan faktor
risiko lainnya mungkin bisa diubah. Salah
satu faktor risiko yang dapat dirubah dan well-documented
adalah Fibrilasi Atrial (FA). FA meningkatkan risiko stroke hingga 5 kali lipat,
menyumbang 15% dari stroke, meningkat sesuai usia dan membutuhkan biaya besar. Di Amerika Serikat biaya untuk penanganan
Fibrilasi Atrial adalah 66 miliar dollar per tahun (Banerjee A et al, 2011; Goldstein LB et al, 2011).
Stroke
kardioembolik dengan jumlah sekitar 1/5 dari stroke iskemik, dan kasusnya
semakin meningkat seiring bertambah usia. Stroke
kardioembolik merupakan subtipe
stroke dengan prognosis buruk yang dapat menimbulkan
kematian dan menimbulkan ketergantungan fungsional yang tinggi pada
pasien. Selain itu, Stroke kardioembolik juga menyebabkan terjadinya
peningkatan kasus transformasi perdarahan intraserebral pada stroke. Dalam banyak kasus, terulangnya stroke kardioembolik juga dapat dicegah dengan antikoagulan oral (Mohr JP, 2011).
Heparin, warfarin dan
beberapa obat antikoagulan jenis baru sedang
dikembangkan. Obat-obatan tersebut bekerja lebih spesifik pada
tahap koagulasi tertentu. Misalnya Faktor Xa inhibitor, termasuk di dalamnya inhibitor indirek seperti idraparinux
dan biotinilasi idraparinux yang menghambat faktor Xa melalui potensiasi
antitrombin. Obat-obatan baru lain seperti
dabigatran sebagai inhibitor thrombin langsung dan
obat-obatan inhibitor langsung faktor Xa (rivaroxaban, apixaban, edoxaban, dan betrixaban).
Ximelagatran menunjukkan efikasi yang sama dengan warfarin namun dianggap gagal
karena toksik pada liver (Katsnelson
M et al, 2012; Fàbregas JM, Mateo J, 2009).
No comments:
Post a Comment