Setelah
terjadi proses iskemia, terbentuk reactive
oxygen species (ROS). Radikal bebas yang
terbentuk akan memicu siklus dalam mitokondria, yang menghasilkan superoksid dalam jumlah berlebihan. Sumber lain ROS berasal dari proses enzimatik, misalnya degradasi
hipoksantin.
Stres oksidatif akibat pembentukan ROS, pada dasarnya akan
menimbulkan eksitotoksisitas, kehilangan energi, dan ketidakseimbangan
ion, yang semuanya ini akan menimbulkan
kerusakan jaringan (Fisher M, 2009).
Selain ROS, ada proses lain yang terlibat, yaitu melalui jalur
nitrosatif. Nitric oxide (NO)
memiliki peran penting dalam proses tersebut. NO disintesa oleh L-arginine melalui bermacam bentuk NO synthase (misalnya NOS I, II, dan III). Dalam situasi peningkatan stres oksidatif, NO akan
bereaksi bersama anion superoksid untuk membentuk suatu peroksinitrit sitotoksik yang dapat merusak semua komponen sel (Fisher M, 2009).
Saat
iskemia terjadi, neuron NOS tipe I (nNOS) akan teraktivasi melalui influks kalsium. Dalam hitungan
menit, kadar NO akan sangat tinggi. Di sisi lain, iNOS (inducible NOS) atau disebut juga NOS tipe II (yang secara normal
tidak ada pada otak sehat) akan ikut terbentuk. iNOS akan terbentuk 24 jam
paska iskemia dalam sel-sel astrosit, endotel, maupun sel-sel non-neuronal (misalnya mikroglia dan leukosit). Sekali terbentuk, iNOS akan
secara aktif membentuk NO (Fisher M, 2009).
Kedua
proses pembentukan NO dan ROS tersebut sangat terkait dengan kerusakan sel. Bahkan perusakan yang ditimbulkan
dapat mencapai tingkat DNA. Disisi lain,
keduanya juga akan mengaktifasi enzim inti poly-ADP-ribose polymerase (PARP-1). PARP-1 jika teraktifasi akan mengkonsumsi ß-nicotinamide adenine dinucleotide
(NAD+) dalam jumlah banyak. Konsumsi NAD+ yang sangat banyak akan menyebabkan kematian sel. (Fisher M, 2009).
No comments:
Post a Comment