Sunday, August 26, 2012
TNF alpha dan stroke
TNF-alpha ( Tumor Necrosis Factor-alpha) merupakan mediator pro-inflamatorik yang berperan luas dalam proses
inflamasi, infeksi, autoimun. Peningkatan TNF-a yang berlebihan juga
terjadi pada kondisi infark miokard akut, gangguan hepar, ginjal dan elektrolit.
TNF-a merupakan sitokin yang berperan pada kerusakan sawar darah otak, proses inflamasi,
trombogenik dan perubahan vaskular yang terjadi setelah otak mengalami cedera.
Berbagai sitokin yang berperan dalam proses inflamasi di otak
adalah interleukin, tumor necrosis factor alpha, interferon
(IFN), faktor pertumbuhan dan chemokine.
Sitokin ikut berperan dalam proses fisiologik
maupun patologik dalam otak, baik sebagai
imunomodulator maupun neuromodulator. Dalam
proses iskemia cerebral, sitokin terlibat dalam banyak hal, yaitu stimulasi leukosit, molekul adhesi leukosit dan sel endotel, serta sel-sel lain yang mengakibatkan timbulnya respon inflamasi. Pada
sisi lain, sitokin dapat memfasilitasi proses trombogenesis dengan meningkatkan
level plasminogen-activating inhibitor-1 (PAI-1) dan platelet-activating factor. Sitokin pro-inflamatorik yang berkontribusi paling banyak pada stroke iskemia adalah
TNF-a.
Penghasil
TNF-a pada otak, setelah terjadinya
proses iskemia adalah sel ependim pleksus khoroideus, astrosit, mikroglia,
makrofag, monosit dan sel neuron.
Meningkatnya produksi TNF-a dan reseptor TNF p55 pada awal cedera iskemia merupakan bukti
keterlibatan TNF-a pada respon awal. Bukti
keterkaitan TNF-a pada stroke iskemik dibuktikan pada penyuntikan TNF-a yang mengakibatkan perluasan ukuran infark pada otak.
Pada sisi
lain, TNF-a dapat menstimulasi
pembentukan TF (tissue factor), adhesi molekul pada
leukosit, interleukin-1 (IL-1), nitric
oxide, platelet-activating factor.
Selain itu TNF-a dapat menurunkan produksi tissue plasminogen
activator dan meningkatkan pembentukan plasminogen activator inhibitor-1. TNF-a juga mengaktifasi matrix metaloproteinase (MMP) yang mengakibatkan peningkatan
permeabilitas vaskular otak. TNF-a juga meningkatkan produksi ROS pada endotel, melalui
induksi enzim xanthine oxidase,
cyclooxygenase (COX) dan nicotinamide
adenine dinucleotide phosphatase hydrogen (NADPH) oxidase.
Seluruh
proses tersebut akan menimbulkan proses lokal pada
pembuluh darah setempat, memudahkan terjadinya inflamasi dan trombosis, dengan
hasil akhir akan semakin memperberat kerusakan otak.
TNF alpha dan apoptosis
TNF-a juga terlibat secara tidak langsung dalam proses apoptosis, yaitu melalui pembentukan ceramide. Ceramide merupakan merupakan salah satu mediator dalam proses apoptosis. Proses apoptosis yang dilalui oleh ceramide adalah lewat jalur caspase-dependent (melalui pelepasan cytochrome c dan aktifasi caspase-3) maupun caspase-independent (melalui translokasi AIF).
TNF alpha dan apoptosis
TNF-a juga terlibat secara tidak langsung dalam proses apoptosis, yaitu melalui pembentukan ceramide. Ceramide merupakan merupakan salah satu mediator dalam proses apoptosis. Proses apoptosis yang dilalui oleh ceramide adalah lewat jalur caspase-dependent (melalui pelepasan cytochrome c dan aktifasi caspase-3) maupun caspase-independent (melalui translokasi AIF).
TNF-a yang meningkat pada jaringan
otak, cairan liquor dan plasma juga ditemukan pada kasus-kasus
penyakit saraf pusat, yaitu Parkinson, multiple sclerosis, trauma kepala, inflamasi dan meningitis meningokokkus.
TNF alpha dan stroke
Peningkatan TNF-a pada serum stroke iskemia didapatkan sejak 4-6 jam paska serangan, dan meningkat secara stabil hingga beberapa hari. Pada penelitian lain, TNF alpha dalam cairan serebrospinal dan serum meningkat secara signifikan pada 24 jam pertama setelah serangan stroke iskemik.
Peningkatan TNF-a pada serum stroke iskemia didapatkan sejak 4-6 jam paska serangan, dan meningkat secara stabil hingga beberapa hari. Pada penelitian lain, TNF alpha dalam cairan serebrospinal dan serum meningkat secara signifikan pada 24 jam pertama setelah serangan stroke iskemik.
Ferrarese et
al, (1999) menunjukkan peningkatan TNF alpha dalam serum pada hari pertama hingga hari ke-90 sesudah stroke iskemik. Ada juga studi yang menunjukkan bahwa kadar TNF-a akan mencapai puncak pada hari ke-7
sesudah stroke iskemik.
Studi lain ada yang menemukan bahwa peningkatan TNF alpha
dalam cairan serebrospinal dan serum tidak berkorelasi dengan peningkatan
leukosit serum. Hal ini berarti bahwa TNF-a yang meningkat pada fase akut
stroke iskemik tidak tergantung pada
peningkatan leukosit perifer.
Didapatkan
juga bahwa peningkatan TNF-a dalam cairan serebrospinal dan serum pasien stroke iskemik berkorelasi dengan volume infark. Didapatkan juga korelasi kuat antara kadar serum TNF-alpha dalam darah pasien stroke dengan klinis fungsional pasien yang diukur dengan NIHSS, menurut penelitian oleh saiful.
Patofisiologi Stroke Iskemia (6) : Proses Apoptosis sesudah Iskemia
PROSES
APOPTOSIS SESUDAH ISKEMIA
Apoptosis
ditandai dengan ciri khusus berupa penyusutan sitoplasma, segmentasi inti,
kondensasi kromatin dan pembentukan badan apoptotik. Dalam proses apoptosis ada
2 mekanisme penting yaitu: caspase-dependent
dan caspase-independent. Kaspase merupakan protease spesifik yang secara
rutin dibentuk oleh sel neuron di otak. Kaspase tersebut dapat diaktifasi oleh
stimulus internal maupun eksternal. Stimulus eksternal melalui aktifasi
reseptor kematian misalnya Fas dan reseptor TNF-a. Sedangkan stimulus
internal melalui pembentukan oksigen radikal, kerusakan DNA, peningkatan
kalsium intrasel, aktifasi protease lysosomal (Fisher M, 2009).
Setelah
teraktifasi, kaspase akan mengaktifkan kaspase lain, terutama kaspase-3, yang
terbentuk segera setelah terjadi iskemia otak. Hal lain yang penting dalam
proses apoptosis adalah keterlibatan cytochrome
c yang berasal dari mitokondria. Cytochrome
c akan membentuk komplek apoptosome
(Fisher M, 2009).
Jalur
apoptosis yang kedua, yaitu jalur caspase-independent.
Yang berperan penting di sini adalah apoptosis-inducing
factor (AIF). AIF yang dihasilkan akan mengakibatkan kondensasi kromatin (Fisher M, 2009).
Patofisiologi Stroke Iskemi (5) : Proses Inflamasi sesudah Iskemia
Segera setelah terjadinya proses iskemia
akan terbentuk gen pro-inflamatorik yang akan diikuti pembentukan molekul
adhesi (misalnya intercellular adhesion
molecule atau ICAM dan vascular
adhesion molecule atau VCAM) selanjutnya akan terjadi aktivasi endotel,
interaksi pro-inflamatorik dan protrombotik antara pembuluh darah dengan
komponen darah yang selanjutnya menimbulkan proses trombogenesis dan sumbatan
mikrovaskular (Fisher M, 2009).
Molekul adhesi yang terbentuk akan
berikatan dengan reseptor pada netrofil yang akan untuk mendorongnya masuk ke
dalam jaringan otak. Di sisi lain, sel imunokompeten dari otak, seperti
mikroglia akan teraktifasi. Setelah teraktifasi, mikroglia akan menghasilkan
sitokin pro-inflamatorik. Sel makroglia yaitu astrosit juga akan berproliferasi
dan memproduksi sitokin pro-inflamatorik
(Fisher M, 2009).
Patofisiologi Stroke Iskemia (4) : Depolarisasi Daerah Sekitar Lesi
DEPOLARISASI
PADA DAERAH SEKITAR LESI
Depolarisasi
anoksik terjadi karena kehilangan energi dan kekurangan oksigen pada sel neuron
maupun sel non-neuronal. Selain itu, depolarisasi juga diperberat oleh
pelepasan glutamat dan asam amino eksitatori lainnya. Sel pada inti lesi yang mengalami
depolarisasi akan mengalami kematian. Pada daerah sekitar infark, sel masih
mungkin mengalami repolarisasi dengan membutuhkan energi yang cukup banyak.
Bersamaan dengan proses depolarisasi, neurotransmiter dan potassium akan
dikeluarkan menuju ekstrasel dan mengawali gelombang repetisi yang dikenal
dengan istilah depolarisasi peri-infark. Proses ini diawali pada bagian inti
lesi menuju ke tepi, seperti sebuah gelombang (Fisher M, 2009).
Patofisiologi Stroke Iskemia (3) : Stres Oksidatif dan Nitrosatif
Setelah
terjadi proses iskemia, terbentuk reactive
oxygen species (ROS). Radikal bebas yang
terbentuk akan memicu siklus dalam mitokondria, yang menghasilkan superoksid dalam jumlah berlebihan. Sumber lain ROS berasal dari proses enzimatik, misalnya degradasi
hipoksantin.
Stres oksidatif akibat pembentukan ROS, pada dasarnya akan
menimbulkan eksitotoksisitas, kehilangan energi, dan ketidakseimbangan
ion, yang semuanya ini akan menimbulkan
kerusakan jaringan (Fisher M, 2009).
Selain ROS, ada proses lain yang terlibat, yaitu melalui jalur
nitrosatif. Nitric oxide (NO)
memiliki peran penting dalam proses tersebut. NO disintesa oleh L-arginine melalui bermacam bentuk NO synthase (misalnya NOS I, II, dan III). Dalam situasi peningkatan stres oksidatif, NO akan
bereaksi bersama anion superoksid untuk membentuk suatu peroksinitrit sitotoksik yang dapat merusak semua komponen sel (Fisher M, 2009).
Saat
iskemia terjadi, neuron NOS tipe I (nNOS) akan teraktivasi melalui influks kalsium. Dalam hitungan
menit, kadar NO akan sangat tinggi. Di sisi lain, iNOS (inducible NOS) atau disebut juga NOS tipe II (yang secara normal
tidak ada pada otak sehat) akan ikut terbentuk. iNOS akan terbentuk 24 jam
paska iskemia dalam sel-sel astrosit, endotel, maupun sel-sel non-neuronal (misalnya mikroglia dan leukosit). Sekali terbentuk, iNOS akan
secara aktif membentuk NO (Fisher M, 2009).
Kedua
proses pembentukan NO dan ROS tersebut sangat terkait dengan kerusakan sel. Bahkan perusakan yang ditimbulkan
dapat mencapai tingkat DNA. Disisi lain,
keduanya juga akan mengaktifasi enzim inti poly-ADP-ribose polymerase (PARP-1). PARP-1 jika teraktifasi akan mengkonsumsi ß-nicotinamide adenine dinucleotide
(NAD+) dalam jumlah banyak. Konsumsi NAD+ yang sangat banyak akan menyebabkan kematian sel. (Fisher M, 2009).
Subscribe to:
Comments (Atom)
