Monday, February 24, 2014

Bolehkah pasien stroke mengemudi?


Sebelum mengemudikan kendaraan, ada beberapa panduan bagi para pasien stroke (tentu setelah melewati fase akut). 

Pertama, evaluasi mengenai gangguan lapang pandang, gangguan atensi, kognitif (terutama terkait problem solving, fungsi bahasa), kelemahan otot berupa hemiplegi (atau hemiparesis), apraksia.

Seberapa pentingkah mengemudi bagi para survivor stroke?
-         Mengemudi merupakan salah satu bentuk kebebasan dari tergantung pada orang lain, dan tentunya bentuk integrasi dengan lingkungan. 

Penglihatan dan atensi merupakan komponen penting untuk mengemudi dengan aman

Hingga saat ini belum ada “tools” yang dapat memprediksi kemampuan mengemudi pasien stroke
Beberapa tes yang dapat digunakan adalah pemeriksaan neurologik dasar yang rutin dilakukan oleh neurolog, juga tambahan “tools” untuk pemeriksaan kognitif, misal Trail making test dan lain-lain

Pasien dengan gangguan lapang pandang juga dikonsulkan oleh neurolog ke spesialis mata untuk pemeriksaan defek visualnya.

Beberapa menyarankan (bahkan untuk kasus TIA atau serangan otak sepintas), untuk tidak mengemudikan kendaraan sampai pemeriksaan medis lengkap dilakukan.

Lainnya, misal menyarankan menunda mengemudi hingga 1 bulan paska stroke

Beberapa hal yang perlu dihindari ketika pasien stroke memulai lagi mengemudikan kendaraan:
  • Mengemudi pada area yang tidak dikenal
  • Mengemudi malam
  • Mengemudi saat lelah
  • Parkir paralel
  • Mengemudi saat jam macet
  • Pada jalur cepat

Beberapa intervensi neuro-restorasi yang dapat dilakukan untuk membantu pasien
  1. Latihan visual-attention
  2. Penggunaan program simulasi, meliputi adaptasi hingga skenario mengemudi.

No comments:

Post a Comment