Penggunaan antikoagulan merupakan hal menarik bagi dunia medis sejak masa Hippocrates (460 – 380 Sebelum Masehi). Hippocrates menganjurkan pemberian anggur putih
untuk membuat darah menjadi encer pada wanita dengan darah menstruasi
yang sedikit. Pada jaman dahulu juga dikenal beberapa
ekstrak tanaman dengan
istilah pengencer darah.
Galen (131-201 M) berfikir bahwa darah terlalu kental pada beberapa pasiennya,
sehingga dia menyarankan untuk menjadikannya encer dengan cara menimbulkan
diare melalui konsumsi sayuran rhubarb
(Mueller RL, Scheidt S, 1994).
Pada tahun 1884 Haycraft mengidentifikasi adanya efek
antikoagulan pada saliva lintah, yang dinamakan Hirudin. Namun ekstrak yang
dibuatnya masih beracun. Berlanjut
hingga penemuan heparin, salah
satu obat tua yang sering digunakan hingga kini. Penemuan heparin hampir satu abad yang lalu dan membutuhkan waktu bertahun-tahun uji laboratorium ke
manusia. Tahun 1916, Jay McLean, mahasiswa di Johns Hopkins
Medical School, Baltimore, Amerika
Serikat, bekerja pada dosennya, William Henry
Howell. Howell menduga cephalin yang diisolasi dari
otak anjing akan menimbulkan aktivasi
prothrombin. Ternyata setelah diteliti oleh McLean, cephalin tidak menimbulkan
efek yang diharapkan. Selanjutnya McLean melanjutkan penelitian menggunakan hepar anjing, yang ternyata menimbulkan perdarahan
hebat pada hewan. Penelitian McLean terhenti karena dia lebih tertarik kembali pada cephalin, yang menurutnya lebih berguna pada penghentian luka perdarahan pada peperangan (Wardrop D, Keeling D, 2008).
Howell bersama murid lain, Emmett Holt
Jr. mengembangkan penelitian ekstrak hepar
tersebut hingga akhirnya dikenal istilah 'Heparin' dari bahasa Yunani yang berarti 'hepar' atau hati. Namun heparin tersebut masih bersifat toksik. Hingga pada 1959, Best dari Toronto menemukan
ekstrak murni heparin yang
tidak toksik (Wardrop D, Keeling D, 2008).
Setelah heparin,
para peneliti memerlukan alternatif antikoagulan yang dapat diberikan peroral.
Pada tahun 1920an, ketika itu banyak sapi dan domba mati karena perdarahan
organ dalam. Penyebabnya adalah konsumsi
makanan ternak dari daun dan jerami yang diproses secara primitif sehingga tumbuh
jamur-jamur jenis Penicillium nigricans dan Penicillium jensi. Ternak terhenti perdarahan jika makanan dihentikan
atau mendapat transfusi darah hewan sehat. Para peneliti dari Wisconsin, Amerika
Serikat terus mempelajari hal tersebut. Salah seorang peneliti bernama Karl
Link, saat menjalani perawatan sanatorium, mendapat ide untuk menggunakan bahan penelitiannya sebagai rodentisida
(pembunuh tikus).
Pembunuhan tikus berhasil
dengan menimbulkan perdarahan internal. Akhirnya, bahan tersebut diberi nama Warfarin, singkatan dari Wisconsin Alumni Research Foundation (Wardrop D, Keeling
D, 2008).
Setelah digunakan
sebagai rodentisida, warfarin
mulai untuk aplikasi klinis dengan nama Coumadin. Tahun 1955, warfarin diberikan kepada Presiden Dwight
Eisenhower setelah mengalami miokard infark. Sehingga
saat itu terdapat sebuah ungkapan, ” Sesuatu yang baik untuk pahlawan
perang dan seorang presiden Amerika Serikat harus baik untuk semua, meskipun
itu adalah racun tikus!" (Manucci,
2001; W. Douglas, Keeling D, 2008).
Tahun 1938, Irving S. Wright, seorang cardiolog melaporkan penggunaan pertama warfarin sebagai terapi pencegahan stroke
iskemik. Selama bertahun-tahun, oral antikoagulan
yang tersedia adalah warfarin. Kelemahannya berupa onset yang lambat, pengaruh bahan makanan dan obat-obatan tertentu. Pemberian pada pasien stroke iskemik mengalami kesulitan
karena banyak pasien usia tua
sulit menerapkan detil terapi dan kontrol rutin laboratorium. Konsekuensi yang timbul adalah menghabiskan banyak
waktu dan biaya sehingga warfarin semakin jarang digunakan. Dari pasien yang seharusnya terindikasi memerlukan warfarin, dilaporkan hanya 55 % saja yang mendapat terapi tersebut (Wright, 1959; Fàbregas JM, Mateo J,
2009).
Penemuan antikoagulan jenis
baru membutuhkan waktu lebih kurang 70 tahun. Berbeda dengan
heparin dan warfarin, obat antikoagulan jenis baru bekerja lebih spesifik pada tahap koagulasi tertentu
Penggunaan teknologi tinggi x-ray kristalografi dan komputerisasi mampu menghasilkan biovailabilitas dan
farmakokinetik yang
diharapkan. Beberapa percobaan tahap III obat-obatan oral antikoagulan baru pada pasien Fibrilasi Atrial telah terselesaikan atau mendekati penyelesaian (Fàbregas JM, Mateo
J, 2009).